KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan ridhonya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul “Pengertian Pendidikan Jasmani”
Adapun penulisan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi kewajiban kami sebagai mahasiswa dalam melengkapi mata kuliah Asas dan
Falsafah Pendidikan Jasmani. Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam
makalah ini walaupun kami sudah berusaha maksimal. Oleh karena itu kritik dan
saran bersifat membangun sangat kami harapkan..
Semoga dengan adanya makalah ini bisa menambah
pengetahuan tenteng pengertian pendidikan jasmani untuk kami maupun bagi
pembaca.
Karawang, Oktober 2014
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar…………………………………...……………………………………….…..i
Daftar Isi…………………………………………………………..………………………….ii
BAB
1 PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang…………………………………………………...…………………………1
B. Rumusan
Masalah………………………………………………...…………………….…...1
C. Tujuan…………………………………………………………...………………………….1
BAB
2 PEMBAHASAN
Pengertian
Pendidikan Jasmani…………………………………………..……..………………2
1. Kesatuan
Unsur Tubuh dan Pikiran …………………………………...……..………....……4
2. Sejarah
Istilah Pendidikan Jasmani…………………………………..…………….…..……..5
3. Hubungan Pendidikan
Jasmani, Play (bermain) dan Sport……………..……………….....…..5
4. Pendidikan
Jasmani: Bidang Kajian yang Sangat Luas……………………..…………......…...7
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………….……………………………....…8
B. Saran……………………………………………………………………………………..…8
Daftar Pustaka .………………………….…………………………………………………...9
Lampiran……….……………………………………………………………………………10
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseleuruhan,
bertujuan untuk mengembangkan aspek
kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis,
keterampilan, sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral aspek
pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktifitas jasmani,
olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam
rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan jasmani adalah media
untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik,
pengetahuan dan penalaran.untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan
kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Kemudian pendidikan Jasmani bertujuan
untuk mencapai perupahan holistik pada peserta didik.
B. Rumusan Masalah
“ Apa pengertian pendidikan jasmani?”
C. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka makalah
ini bertujuan untuk menjelaskan tentang pengertian pendidikan jasmani.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Pendidikan Jasmani
Siedentop (1991), seorang pakar pendidikan jasmani
dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa dewasa ini pendidikan jasmani dapat
diterima secara luas sebagai model “pendidikan melalui aktivitas jasmani”, yang
berkembang sebagai akibat dari merebaknya telaahan pendidikan gerak pada akhir
abad ke-20 ini dan menekankan pada kebugaran jasmani, penguasaan keterampilan,
pengetahuan, dan perkembangan sosial. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa:
"pendidikan jasmani adalah pendidikan dari, tentang, dan melalui aktivitas
jasmani".
Menurut Jesse Feiring Williams (1999; dalam Freeman,
2001), pendidikan jasmani adalah sejumlah aktivitas jasmani manusiawi yang
terpilih sehingga dilaksanakan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Pengertian ini didukung oleh adanya pemahaman bahwa:
„Manakalah
pikiran (mental) dan tubuh disebut sebagai dua unsur yang terpisah, pendidikan,
pendidikan jasmani yang menekankan pendidikan fisikal... melalui pemahaman sisi
kealamiahan fitrah manusia ketika sisi keutuhan individu adalah suatu fakta
yang tidak dapat dipungkiri, pendidikan jasmani diartikan sebagai pendidikan
melalui fisikal. Pemahaman ini menunjukkan bahwa pendidikan jasmani juga
terkait dengan respon emosional, hubungan personal, perilaku kelompok,
pembelajaran mental, intelektual, emosional, dan estetika.’
Pendidikan melalui fisikal maksudnya adalah
pendidikan melalui aktivitas fisikal (aktivitas jasmani), tujuannya mencakup
semua aspek perkembangan kependidikan, termasuk pertumbuhan mental, sosial
siswa. Manakala tubuh sedang ditingkatkan secara fisik, pikiran (mental) harus
dibelajarkan dan dikembangkan, dan selain itu perlu pula berdampak pada
perkembangan sosial, seperti belajar bekerjasama dengan siswa lain. Rink (1985)
juga mendefinisikan pendidikan jasmani sebagai "pendidikan melalui
fisikal", seperti:
‘Kontribusi
unik pendidikan jasmani terhadap pendidikan secara umum adalah perkembangan
tubuh yang menyeluruh melalui aktivitas jasmani. Ketika aktivitas jasmani ini
dipandu oleh para guru yang kompeten, maka basil berupa perkembangan utuh
insani menyertai perkembangan fisikal-nya. Hal ini hanya dapat dicapai ketika
aktivitas jasmani menjadi budaya dan kebiasaan jasmani atau pelatihan jasmani.’
Pendapat lain namun dalam ungkapan yang senada,
seperti diungkapkan. Barrow (2001; dalam Freeman, 2001) adalah bahwa pendidikan
jasmani dapat didefinisikan sebagai pendidikan tentang dan melalui gerak
insani, ketika tujuan kependidikan dicapai melalui media aktivitas otot-otot,
termasuk: olahraga (sport), permainan, senam, dan latihan jasmani (exercise).
Dalam menempatkan posisi pendidikan jasmani,
diyakini pula bahwa kontribusi pendidikan jasmani hanya akan bermakna ketika
pengalaman-pengalaman gerak dalam pendidikan jasmani berhubungan dengan proses
kehidupan seseorang secara utuh di masyarakat. Manakala pengalaman dalam
pendidikan jasmani tidak memberikan kontribusi pada pengalaman kependidikan
lainnya, maka pasti terdapat kekeliruan dalam pelaksanaan program pendidikan
jasmaninya.
James A.Baley dan David A.Field (2001; dalam
Freeman, 2001) menekankan bahwa pendidikan fisikal yang dimaksud adalah
aktivitas jasmani yang membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh. Lebih lanjut
kedua ahli ini menyebutkan bahwa:
‘Pendidikan
jasmani adalah suatu proses terjadinya adaptasi dan pembelajaran secara
organik, neuromuscular, intelektual, sosial, kultural, emosional, dan estetika
yang dihasilkan dari proses pemilihan berbagai aktivitas jasmani.’
Aktivitas jasmani yang dipilih disesuaikan dengan
tujuan yang ingin dicapai dan kapabilitas siswa. Aktivitas fisikal yang dipilih
ditekankan pada berbagai aktivitas jasmani yang wajar, aktivitas jasmani yang
membutuhkan sedikit usaha sebagai aktivitas rekreasi dan atau aktivitas jasmani
yang sangat membutuhkan upaya keras seperti untuk kegiatan olahraga kepelatihan
atau prestasi.
Pendidikan jasmani memusatkan diri pada semua bentuk
kegiatan aktivitas jasmani yang mengaktifkan otot-otot besar (gross motorik),
memusatkan diri pada gerak fisikal dalam permainan, olahraga, dan fungsi dasar
tubuh manusia.
Dengan demikian, Freeman (2001:5) menyatakan
pendidikan jasmani dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok bagian, yaitu:
1. Pendidikan jasmani dilaksanakan melalui media
fisikal, yaitu: beberapa aktivitas
fisikal atau beberapa tipe gerakan tubuh.
fisikal atau beberapa tipe gerakan tubuh.
2. Aktivitas jasmani meskipun tidak selalu, tetapi
secara umum mencakup berbagai
aktivitas gross motorik dan keterampilan yang tidak selalu harus didapat perbedaan
yang mencolok.
aktivitas gross motorik dan keterampilan yang tidak selalu harus didapat perbedaan
yang mencolok.
3. Meskipun para siswa mendapat keuntungan dari proses
aktivitas fisikal ini, tetapi
keuntungan bagi siswa tidak selalu harus berupa fisikal, non-fisikal pun bisa diraih
seperti: perkembangan intelektual, sosial, dan estetika, seperti juga perkembangan
kognitif dan afektif.
keuntungan bagi siswa tidak selalu harus berupa fisikal, non-fisikal pun bisa diraih
seperti: perkembangan intelektual, sosial, dan estetika, seperti juga perkembangan
kognitif dan afektif.
Secara utuh, pemahaman yang harus ditangkap adalah:
pendidikan jasmani menggunakan media fisikal untuk mengembangkan kesejahteraan
total setiap orang. Karakteristik pendidikan jasmani seperti ini tidak terdapat
pada matapelajaran lain, karena hasil kependidikan dari pengalaman belajar
fisikal tidak terbatas hanya pada perkembangan tubuh saja. Konteks melalui
aktivitas jasmani yang dimaksud adalah konteks yang utuh menyangkut semua
dimensi tentang manusia, seperti halnya hubungan tubuh dan pikiran.
Tentu, pendidikan jasmani tidak hanya menyebabkan
seseorang terdidik fisiknya, tetapi juga semua aspek yang terkait dengan
kesejahteraan total manusia, seperti yang dimaksud dengan konsep “kebugaran
jasmani sepanjang hayat”. Seperti diketahui, dimensi hubungan tubuh dan pikiran
menekankan pada tiga domain pendidikan, yaitu: psikomotor, afektif, dan
kognitif. Beberapa ahli dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga, Syer
& Connolly (1984); Clancy (2006); Begley (2007), menyebutkan hal senada
bahwa “tubuh adalah tempat bersemayamnya pikiran.” Ada unsur kesatuan pemahaman
antara tubuh dengan pikiran.
1.
Kesatuan Unsur Tubuh dan Pikiran
Salah satu masalah besar, untuk selama
bertahun-tahun lamanya seolah tidak akan pernah tuntas, adalah perdebatan
antara intelektual dan jasmani. Kepercayaan banyak orang adalah bahwa tubuh
terpisah dari pikiran, yang kemudian memunculkan pemahaman "dualisme"
dan cenderung mengarah pada pikiran adalah sesuatu yang diutamakan, sementara
tubuh adalah sesuatu yang inferior. Sebagai contoh, sering didapatkan pada
rohaniawan yang mengutamakan pada kesempurnaan pikiran daripada kesejahteraan
fisiknya. Bahkan sampai pada keyakinan bahwa pikiran berada di atas unsur
tubuh, dan mengendalikan semua sistem tubuh yang ada.
Sebaliknya, ada juga filosofi yang menyebutkan bahwa
tubuh dan pikiran bersatu, yang kemudian dikenal sebagai aliran pemahaman holism,
suatu kesatuan antara tubuh dan pikiran. Keyakinan ini dapat dengan mudah
dikenali, seperti yang sering didengar sebuah semboyan Orandum est ute sit
men sana in corpore sano atau seperti: a sound mind in a sound body (Krecthmar,
2005:51). Moto seperti ini, sering dijadikan rujukan dalam setiap pelaksanaan
pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani memanfaatkan aktivitas jasmani untuk
mengembangkan aspek tubuh dan pikiran, dan bahkan aspek spiritual. Hal ini pun
menjadi fokus orientasi utama dalam pengembangan aktivitas jasmani sebagai
upaya pengembangan utuh-manusia.
Pertanyaan utama yang patut dimunculkan adalah
apakah benar keyakinan terhadap kesatuan tubuh dan pikiran? Pada kenyataannya
di masyarakat sering ditemukan keyakinan bahwa tubuh dan pikiran berada pada
sifat dualism. Sesungguhnya, pendidikan jasmani mencoba membuktikan dan
meyakinkan setiap orang bahwa tubuh dan pikiran berpadu menjadi satu kesatuan
dalam konsep holism, meskipun pikiran berada di atas kedudukan tubuh.
Inilah bukti bahwa perdebatan itu akan senantiasa muncul sebagai akibat adanya
dinamika dalam pemikiran. Pendapat yang bijak dapat dimunculkan ketika mencoba
memposisikan diri pada pemikiran netral, bijak dalam memposisikan masing-masing
pendapat, pikiran mengendalikan tubuh, tetapi tubuh pun dapat memberikan
informasi dan mempengaruhi pikiran. Pembenaran akan dapat diterima ketika apa
yang terjadi sesuai dengan landasan teoritisnya. Tetapi, teori dapat diterima
ketika sejalan dengan apa yang terjadi.
2.
Sejarah Istilah Pendidikan Jasmani
Sejarah istilah pendidikan jasmani di Amerika
Serikat berawal dari istilah gymnastics, hygiene, dan physical
culture Siedentop (1972). Di tanah air, istilah pendidikan jasmani berawal
dari istilah gerak badan atau aktivitas jasmani. Dalam perjalanan sejarah juga
pernah mengalami istilah pendidikan olahraga, pendidikan jasmani kesehatan
rekreasi, pendidikan jasmani kesehatan, sebelum kembali pada istilah pendidikan
jasmani sekarang ini. Perjalanan ini menunjukkan ketidak-konsistenan misi dan
visi pendidikan jasmani yang diemban di tanah air, terombang-ambing pengaruh
zaman dan budaya serta nilai orientasi yang diyakini masyarakat. Hingga saat
ini pun, di sekolah dikenal istilah matapelajaran pendidikan jasmani, olahraga
dan kesehatan, tetapi seolah sepakat semua orang menyebutnya sebagai
matapelajaran olahraga. Bahkan diantara para guru-nya pun lebih senang
dipanggil sebagai guru olahraga daripada guru pendidikan jasmani. Inilah bukti
ketidak-konsistenan arah dan tujuan pendidikan jasmani di tanah air.
Istilah gymnastics yang pernah ada di
Amerika, terjadi sekitar tahun 1800-an, yang merujuk pada aktivitas jasmani
atau latihan yang dilakukan di gymnasium. Istilah ini juga populer di negara
Eropa, tetapi di Amerika digunakan sebagai bagian fase perkembangan program
pendidikan jasmani. Pada saat ini, karena terjadi penciutan makna, berubah
menjadi lebih spesifik, seperti: olympic gymnastics atau corrective
gymnastics.
Hygiene, suatu istilah populer
lainnya pada tahun 1800-an, yang mengacu pada pengetahuan untuk mengantarkan
orang menjadi sehat. Istilah ini muncul kembali pada tahun 1900-an meski
menjadi istilah health education. Pada saat kemunculan itu para pemimpin
di bidang pendidikan jasmani memusatkan diri dan mengembangkan diri untuk bias
mengantarkan para siswanya sehat.
Istilah lain yang pernah muncul di Amerika Serikat
adalah physical culture. Pada sekitar tahun 1800-an, istilah ini sangat
dekat dengan tema pelatihan jasmani, yang lebih mengarah pada program latihan
kondisi fisik. Program seperti ini juga sering diselenggarakan pada program
militer mereka. Tetapi, tentu istilah ini tidak akan sesuai jika
diselenggarakan dalam program pendidikan jasmani di sekolah.
3.
Hubungan Pendidikan Jasmani, Play (bermain) dan Sport
Merumuskan pengertian pendidikan jasmani harus
mempertimbangkan dalam hubungan-nya dengan bermain (play) dan olahraga (sport).
Berbagai studi di negara maju telah menelusuri dan mengembangkan konsep bermain
dan implikasinya bagi kesejahteraan-total manusia. Demikian juga dengan studi
tentang pendidikan jasmani dan olahraga, tetapi sesungguhnya ketiga istilah itu
memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Bermain adalah
aktivitas yang digunakan untuk mendapatkan kesenangan, keriangan, atau
kebahagiaan. Dalam budaya Amerika bermain adalah aktivitas jasmani
non-kompetetif, meskipun bermain tidak harus berbentuk aktivitas jasmani. Bermain,
seyogyanya bukanlah pendidikan jasmani atau olahraga.
Penulis menyadari, secara tidak sengaja telah
terjadi keragaman makna olahraga seharusnya dikategorikan sesuai dengan
tujuannya, namun demikian sangat memungkinkan terjadinya kerancuan dalam
pemaknaan hakiki olahraga. Kerancuan ini terjadi pada pemaknaan konsep bermain
dengan konsep olahraga tradisional. Karena itu, disarankan olahraga tradisional
tetap saja sebagai kegiatan permainan, dan bukan mengarah pada makna kompetisi
atau olahraga.
Sport, jika diartikan
sebagai olahraga (ingat: olahraga bisa bermakna ganda, olahraga dalam Bahasa
Indonesia, yang berarti membina raga, mengembangkan tubuh agar sehat, kuat, dan
atau produktif; dan olahraga dalam pemaknaan konsep sport). Sport dalam
sistem budaya Amerika adalah bentuk aktivitas bermain yang diorganisir dan
bersifat kompetetif. Coakley (2001), menyatakan bahwa olahraga memiliki tiga
indikator, yaitu: 1) sebagai bentuk keterampilan tingkat tinggi; 2) dimotivasi
oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik motivasi; dan 3) ada lembaga yang mengatur
dan mengelolanya. Sport dalam budaya Amerika tidak sama dengan olahraga dalam
budaya Indonesia. Karena itu pula, olahraga bukanlah sport. Sebagai contoh:
cobalah bandingkan ketika: a) sepuluh orang anak bermain sepakbola di suatu
halaman serambi swalayan, masing-masing berusaha memasukan bola kegawang lawan,
dengan b) sebelas orang pemain PERSIB bertanding sepakbola melawan sebelas
orang pemain PERSIJA. Manakah yang disebut olahraga? Dan manapula yang disebut
sebagai kegiatan bermain?.
Lebih lanjut, olahraga dalam konteks sport adalah
keterampilan yang diformalkan kedalam beberapa tingkatan dan dikendalikan oleh
aturan atau peraturan yang telah disepakati. Meskipun peraturan tersebut
tertulis atau tidak tertulis, tetapi diakui sebagai rujukan bersama dan tidak
bisa diubah ketika sedang melakukan olahraga tersebut.
Olahraga tidak dapat diartikan terpisah dari ciri
kompetitif-nya. Ketika olahraga kehilangan ciri kompetitifnya, maka aktivitas
jasmani itu menjadi bentuk permainan atau rekreasi. Bermain dapat berubah
menjadi olahraga, sementara olahraga tidak akan pernah menjadi bentuk bermain;
unsur kompetitif menjadi aspek penting pada kegiatan olahraga sebagai sport.
Pendidikan jasmani memiliki ciri bermain dan
olahraga, tetapi secara eksklusif bukanlah suatu kombinasi yang setara diantara
istilah bermain dan olahraga. Seperti sudah dikemukakan pada bagian awal
tulisan ini, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang diarahkan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan jasmani adalah aktivitas fisik dan juga
aktivitas pendidikan, tetapi baik itu kegiatan bermain atau olahraga (sebagai sport),
keduanya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan proses kependidikan, hampir selalu
pengalaman aktivitas jasmani dapat dimanfaatkan untuk pencapaian kepentingan
pendidikan.
Bermain, olahraga (sport) dan pendidikan jasmani
mengandung unsur "gerak insani". Ketiganya dapat dimanfaatkan untuk
proses kependidikan. Bermain dapat dimanfaatkan untuk kepentingan relaksasi dan
hiburan,
tanpa ada dampak pada tujuan pendidikan, seperti
juga olahraga muncul bukan diarahkan untuk kepentingan-kepentingan pendidikan.
Sebagai contoh: beberapa atlet profesional (dalam beberapa cabang olahraga)
tidak menunjukkan adanya ciri-ciri kependidikan. Sedangkan, ada pula beberapa
ahli kependidikan jasmani belum menerapkan olahraga sebagai ciri kehidupannya.
Keriangan dan pendidikan bukanlah sesuatu yang bermakna eksklusif, tetapi semua
itu dapat dan harus muncul bersama-sama.
Beragamnya makna olahraga oleh masyarakat menandakan
bahwa olahraga memiliki sejuta makna yang dapat diterjemahkan menurut selera
dan wawasan pengetahuan masyarakat itu sendiri. Makna yang sangat sederhana
adalah aktivitas jasmani. Namun terkadang juga diterjemahkan sebagai bentuk
"prestasi" dari penampilan keterampilan tingkat tinggi. Makna olahraga
bercampur antara olahraga sebagai aktivitas jasmani, bermain, atau gerak badan,
sampai dengan makna olahraga sebagai bentuk "prestasi" tingkat
tinggi. Sistem budaya dan kepercayaan kemudian menentukan bahwa olahraga di
masyarakat terbagi ke dalam olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, dan
olahraga prestasi. Selain itu juga dikenal olahraga kesehatan, olahraga
rehabilitiasi, dan olahraga tradisional. Hal ini terjadi ditunjang pula oleh
nilai-nilai atau keyakinan yang diperoleh, untuk kemudian dikelompokkan
berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dari keterlibatan masyarakat dalam
kegiatan olahraga.
4.
Pendidikan Jasmani: Bidang Kajian yang Sangat Luas.
Pendidikan jasmani, sangat memungkinkan untuk
sepadan dengan istilah gerak insani (human movement), karena menggunakan
aktivitas jasmani sebagai alat untuk mendapatkan perkembangan yang menyeluruh
dalam hal kualitas fisik, mental, dan emosional seseorang. Pendidikan jasmani
memperlakukan seseorang sebagai individu yang utuh dan menyeluruh mencakup
kesejahteraan total manusia, dan tidak memisahkan dimensi fisik dan kualitas
mental, yang selama ini dianggap tidak memiliki hubungan kuat atau terpisah
satu sama lain. Pendidikan jasmani adalah suatu kajian yang sangat luas. Fokus
kajiannya pada peningkatan kualitas gerak manusia. Secara lebih spesifik
menghubungkan kajian antara gerak insani dengan pendidikan. Hubungan itu
termasuk pengembangan dimensi pikiran dan jiwa spiritual. Kajiannya juga
termasuk pada dampak perkembangan jasmani terhadap pertumbuhan dan kontribusi
unik pendidikan jasmani. Tidak ada suatu kajian yang memusatkan pada
pengembangan total manusia secara utuh, kecuali pendidikan jasmani. Karena itu
pula, hal inilah yang mencirikan luasnya bidang kajian pendidikan jasmani.
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut
para ahli pendidikan jasmani adalah pendidikan dari, tentang dan melalui
aktifitas fisik untuk mencapai suatu tujuan. Jadi pada hakikatnya pendidikan
jasmani adalah proses pendidikan yang memenfaatkan aktifits fisik untuk
menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik,
mental serta emosional. Pendidikan jasmani memusatkan diri pada semua bentuk
kegiatan aktivitas jasmani yang mengaktifkan otot-otot besar (gross motorik), memusatkan diri pada
gerak fisikal dalam permainan, olahraga, dan fungsi dasar tubuh manusia.
B.
Saran
Pembaca bisa lebih memehami pengertian pendidikan jasmani
dan juga betapa pentingnya pendidikan jasmani untuk membentuk individu yang
berkualitas, baik dalam hal fisik, mental dan emosional.
Daftar Pustaka
Ø Asep Nurdiansyah, Contoh Makalah
Dasar Penjas, http:/asepsyah.blogspot.com
Ø B.Abduljabar,
Dr., Pengertian Penjas, http;//file.upi.edu/Direktori/FPOK
Ø Dian Rizky Utami, Makalah
Penjaskes, http;/utamidr.wordpress.com
Ø Nurul Ismi, Pengertian Jasmani,
http:/ismiilee.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar